HAPPINESS

Selasa, 10 Februari 2015

Teruntuk hujan

Senin, 9 Februari 2015
    Sahabat, bagaimana kabarmu? Hari ini hujan melanda jakarta sehari penuh. Banjir?? Sudah pasti bencana itu terjadi, tahu kah kami sahabat, berapa volume hujan hari ini? Kurasa kau tidak akan pernah bisa menghitungnya. Sahabat, aku sangat merindukanmu. Rasa rindu ini bahkan melebihi volume hujan diJakarta hari ini.
     Sahabat, ingatkah kamh apa yang kita lakukan dimusim hujan pada bulan November 2013 petang? Aku masih sangat mengingatnya, bahkan jika peristiwa itu ditanyakan di soal UN 2015 aku optimis akan mendapat nilai sempurna. Hari itu kita akan melakukan latihan kesenian untuk pembukaan RAIDA DKI Jakarta 2013 selaku calon pesertanya, sepulang sekolah kau mengantarkanku pulang lalu kita makan bersama dirumahku. Aku beeganti baju sedangkan kau masih memakai seragam w abu-abu. Sore itu cukup cerah makanya kita tidak membawa perlengkapan hujan seperti jas hujan atau payung namun diperjalanan menuju kesekolah untuk menepati perjanjian berkumpul gerimis kecil mulai turun lalu kau lebih cepat menarik gas swpeda motormu hingga kita sampai disekolah.
       Disekolah sudah banyak anggota pramuka yang menunggu kita dan tanpa menunggu lama lagi kita semua langsung bergegas ke KWARCAB karna memang waktunya sudah cukup mepet. Sayang sekali disaat-saat darurat seperti ini jalanan Menceng malah macet dan membuat kita mengambil jalan pintas lewat perkampungan. Gas semakin kencang kau tarik, jujur aku lumayan ngeri diboncengi kau, tiba-tiba kau mengerem mendadak saat aku melihat kedepan ternyata kau hampir menabrak ayam milik warga untung sajanayam itu tidak jadi tertabrak jika sebaliknya aku tak tahu deh apa yang warga kampung lakukan pada kita.
        Kita sudah tertinggal dari rombongan, aku mencoba menelpon rombongan satu persatu dan akhirnya kita sepakat untuk bertemu di KWARCAB saja toh semua sudah tahu jalan menuju KWARCAB. Langit sangatlah gelap angin sedikit kencang namun saat koita melewati fly over aku merasakan angin yang lebih kencang, rasa takut ini sedikit membangkit namun aku hanya bisa diam hingga akhirnya hujan turun.
        Hujan turun dengan intensitas sedangkita masih bisa santai saja menikmati perjalanan sampai beberapa waktu, hujan mulai deras kita masih melanjutkan peejalanan untuk mencari tempat berteduh namun disepanjang jalan tak satupun kita temukan tempat berteduh. Teepaksa kita berhenti didepan rumah mewah yang didepannya terdapat pohon, ya sebenarnya pohon itu juga tidak ada efek apa-apa kita masih saja kehijanan karna pohon itu sangat kurus dengan daun yang kecil-kecil. Kau ingay mempunyai plastik dijok motor untuk mengamankan hp kita berdua lalu kita segera memasukan hp di plastik itu agar tak terkena hujan.
         Hari semakin gelap tempat beeteduh juga tidak ada, kita memutuskan untuk menerobos hujan yang deras itu, kau menyuruhku untuk lebih dekat duduknya denganmu karna takut tas yang berada di tengah-tengah kita kebasahan. Setelah kita mantap untuk melewati hujan kau langsung menarik gas sepeda motor matic berwarna biru itu. Sakit, wajah ini terasa seperti dilempari batu krikil saat hujan deras itu mengenai wajah, kau juga merasakan hal yang sama. Kita tertawa dengan suara yang gagap karna tubuh ini sudah sangat terasa dingin.

        Akhirnya kita sampai ditempat tujuan, dengan baju yang basah kuyup.

     
       Sahabat, aku selalu mengingat kenangan itu jika hujan turun. Kenangan bisa bedua denganmu, bisa berdekatan denganmu, dan kau yang memperhatikanku dengan mengkhawatirkan diriku yang nanntinya bertambah sakit jika terkena hujan.
        Aku sangat merindukanmu, rindu akan keangkuhanmu, rindu candaan yang aku lontarkan secara spontan jika bersamamu, eindu bermain berdua. Akhhhh..... Aku rindu semua tentang dirimu dan kita. Tapi sahabat, tahukah kamu rasa bahagia yang kau ciptakan sebanding dengan rasa sakit yang kau beri. Suatu hari aku telah mencapai titik lelah akibat rasa sakit yang kau beri, aku menangis sepuasku dikelas. Aku sudah tak tahan lagi. Tapi jujur aku tidak bisa marah denganmu. Aku mencoba meyakinkan diriku agar bisa marah padamu namun tetep saja aku tak bisa.
       Aku tidak langsung menyerah, aku tetap berusaha agar perasaan marah dan benci itu bangkit, namun usahaku sia-sia.
 

     Hari ini, 9 februari 2015 aku melewati kelasmu. Pandanganku langsung tertuju padamu begitupun pandanganmu, namun mataku sangat sinis melihatmu. Ya...... Itu lah usaha yang aku lakukan untuk membencimu tapi tahukah kau dilubuk hati ini tatapan itu adalah tatapan kerinduan yang cukup sakit jika terus kupendam.

      Sahabat, kenangan hujan tadi adalah bagian sangat kecil dari kenangan-kenangan kita lainnya. Aku menulis ini ditemani rintihan hujan yang semakin membuat aku merindukanmu. Apakah kau merasakan hal yang sama denganku??

Teruntuk sahabat laki-laki ku.


1 komentar: